Minggu, 21 September 2014
Keluhan Warga Samarinda
Disadari ato nggak kita ini semakin digiring jadi masyarakat yg konsumtif, terutama akhir2 ini di kotaku yaitu Samarinda. Betapa nggak? liat aja makin banyak pusat2 perbelanjaan sementara ruang publik semakin sempit. Padahal kota ini udah cukup panas, macet, n langganan banjir pula.
Seakan-akan kita ini dipaksa banting tulang cari uang supaya para kapitalis menikmati hasilnya. Memang mereka nggak memaksa tapi dengan membangun mall disetiap pojok kota tanpa ruang bernafas sedikitpun apa itu tidak memaksa namanya? Kuperhatikan gaya hidup disini pun semakin menjurus kearah yg semakin tidak mendidik. di masjid Islamic center misalnya, pada saat shalat jum'at kala khotib sedang khotbah saja masih banyak orang yg berkutat dg ponselnya apalagi saat sedang senggang? Praktis hampir gak ada waktu buat bersosialisasi. Orang2 semakin individualis n diracuni oleh media sosial yg memborbardir dg kita dg faham kapitalismenya.
Solusi? hampir gak ada solusi, semua tergantung bagaimana kita menyikapi. Sudah lama aku menghindari menonton televisi, menghindari mall, bertahun-tahun sengaja belum mengganti ponsel dg keluaran terbaru, dan bahkan aku dan keluargaku jarang keluar rumah untuk rekreasi, bukan tidak punya uang tapi kota ini cuma punya mall untuk tempat berteduh kalaupun ada ruang publik itupun kurang terawat dan sangat tidak nyaman. Dan lagi "orang miskin dilarang sakit" kalo gak menabung buat jaminan kesehatan keluarga sendiri siapa yg menjamin? Negara?????????????? C U I H !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar